Kurikulum Berbasis Cinta yang berorientasi melahirkan insan humanis, nasionalis,
naturalis,
toleran, dan selalu mengedepankan cinta membutuhkan landasan prinsip dan nilai
yang kuat dalam proses pengembangannya.
1.
Prinsip Kurikulum Berbasis Cinta
a. Pendidikan Berbasis
Nilai: Menekankan pada pemahaman, internalisasi, dan menghidupkan nilai-nilai
dalam kehidupan sehari-hari.
b. Pengembangan
Karakter: Fokus pada pengembangan karakter murid dengan memperkuat sifat-sifat seperti empati,
toleransi, dan rasa hormat.
c. Keteladanan:
Menumbuhkan para pemimpin yang dapat
menjadi role model nyata
pengimplementasian nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
d. Pendekatan
Holistik: Mempertimbangkan semua aspek perkembangan
murid: fisik, kognitif, emosional, sosial,
dan spiritual.
e. Keterlibatan
Komunitas: Melibatkan orangtua dan masyarakat
sebagai aktor penting dalam menghidupkan nilai cinta di keluarga dan lingkungan.
2.
Metode Kurikulum Berbasis Cinta
a. Pembelajaran Berbasis Pengalaman: Mengutamakan pembelajaran yang bersifat praktis dan
berbasis pengalaman. Kegiatan seperti proyek sosial, pengabdian masyarakat, dan pengalaman kolaboratif akan memperkuat
pemahaman murid tentang
cinta dalam aksi.
b. Pembelajaran
Mendalam (deep leaerning): Proses
internalsissi nilai dilakukan secara berkesadaran (mindful), menekankan pada pemaknaan (meaningful),
dan menggembirakan (joyful).
c. Pembelajaran yang Kreatif dan Inovatif: Menggunakan metode
berpikir kreatif dan inovatif
dalam pemecahan masalah
seperti design for change atau design thinking.
d. Dialog
dan Komunikasi Terbuka: Menerapkan komunikasi
welas asih (compassionate communication),
yang mengutamakan koneksi sebelum koreksi. Sehingga terbangun ruang aman (safe spaces) sehingga semua orang memiliki
kemerdakaan untuk menyampaikan pendapat atas dasar saling percaya dan pengertian.
e. Evaluasi Berbasis Proses: Menggunakan metode evaluasi yang tidak hanya fokus pada hasil akademis, tetapi juga pada perkembangan karakter dan penerapan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
B. Panca Cinta: Lima Topik Kurikulum Cinta
Cakupan
topik dan materi cinta sangatlah luas. Namun demikian, untuk mempermudah proses integrasi ke dalam kurikulum yang ada, maka KBC disusun dalam lima topik yang mewakili
tiga bagian:
1. Bagian pertama adalah
sumber cinta, yaitu Allah dan Rasul-Nya. Bagian ini mengarah pada sifat-sifat Allah yang penuh cinta juga keteladanan Rasulullah
saw. yang penuh cinta.
2. Bagian kedua adalah tanda cinta. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian
paradigma KBC, bahwa secara ontologis, alam semesta adalah bentuk pancaran (tajalli)
dari cinta Allah, yang menjadi tanda-tanda hadirnya Allah. “Ke mana pun kamu menghadapkan wajah, maka akan tampak wajah Allah”
(QS. Al-Baqarah 115). Secara urutan, pada bagian ini, diawali dengan cinta
ilmu, merujuk pada kenyataan bahwa Allah memberikan tanda-tanda-Nya pada ayat-ayat tertulis (qauliyah) dengan ayat-ayat
di semesta (kauniyah). Pada ayat
kauniyah Allah berfirman, “Kami perlihatkan tanda-tanda Kami di ufuk
(alam semesta) dan pada diri-diri mereka.” (QS. Fusilat ayat 53). Merujuk
pada ayat ini maka cinta
pada lingkungan diletakkan sebelum cinta pada diri
sendiri dan sesama manusia.
3.
Materi Pokok Kurikulum Berbasis Cinta di dalam Pembelajaran
1.
Cinta Allah Swt. dan Rasul-Nya
Tujuan
•
Menumbuhkan pemahaman mengenai sifat Allah yang Maha Cinta serta Rasulullah sebagai sosok teladan penuh
cinta.
•
Mengenal sifat jamaliyah (keindahan)
dan jalaliyah (ketegasan) Allah secara lebih
seimbang. Sehingga citra Allah yang selama ini digambarkan maha penghukum akan digantikan oleh citra yang lebih tepat.
•
Memahami bahwa welas asih (rahmah) Allah lebih dominan daripada murka (ghadhab) Nya, sehingga akan tumbuh rasa cinta (bukan paksaan) dalam beribadah kepada Allah, menjalankan sunnah Rasulullah serta
berkhidmat kepada manusia lain dan lingkungan.
Materi
•
Keimanan dan ketakwaan kepada Allah
Swt. sebagai inti dan muara kehidupan.
•
Mengenal Asmaul Husna untuk meneladani sifat-sifat mulia Allah
Swt., seperti ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-‘Adl (Maha
Adil), al-Latif (Maha Lembut), ar-Rauf (Maha Penyantun).
•
Ibadah sebagai wujud cinta kepada
Allah Swt., meliputi salat, doa, zikir, dan membaca Al-Qur'an dengan khusyu.
•
Mensyukuri nikmat Allah Swt. melalui
rasa syukur dalam perilaku sehari-hari.
•
Sejarah kehidupan Rasulullah saw.
(Sirah Nabawiyah) dalam membangun kasih sayang di masyarakat.
•
Mempraktikkan sifat-sifat Rasulullah,
seperti cerdas, jujur, amanah, lemah lembut, dan dermawan.
•
Mempelajari hadis-hadis yang mengajarkan cinta dan akhlak mulia.
2.
Cinta Ilmu
Tujuan
Menumbuhkan pemahaman bahwa dengan ilmu, manusia mampu
membukakan tabir keagungan penciptaan, hikmah di balik setiap syariat. Melalui pemahaman yang mendalam
tentang alam semesta, sejarah, dan ajaran
agama, sehingga kita akan
merasakan getaran cinta Ilahi yang universal.
Materi
• Alat transformasi sosial dan global
• Literasi sebagai sumber ilmu
• Pembelajar sepanjang hayat
• Adab kepada guru
• Pemanfaatan teknologi
• Inovasi dan penalaran kritis
• Ilmu penuntun keseimbangan hidup
• Ilmu dalam konteks keberagaman sejarah, sosial, dan budaya
• Sumber ilmu (qauliyah dan kauniyah).
3.
Cinta Lingkungan
Tujuan
•
Memahami alam semesta sebagai manifestasi
cinta dan kebesaran Allah sehingga tumbuh sikap hormat dan kasih sayang terhadap
lingkungan.
•
Membangun relasi yang tidak transaksional
dengan alam, tetapi dilandasi cinta dan kepedulian sebagaimana terhadap diri sendiri.
•
Menghayati sunnatullah sebagai sistem
keseimbangan ciptaan Allah yang perlu dijaga dan dihormati demi keberlanjutan
kehidupan.
Materi
•
Penguatan bahwa Islam sebagai
agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Adab pada alam dan lingkungan.
•
Menghindari fasad. Larangan
merusak lingkungan (QS. Al-A’raf: 56 dan QS. Ar-Rum:41).
•
Praktik menjaga kebersihan (thaharah)
dan hemat
energi (larangan
ishraf).
4.
Cinta Diri dan Sesama Manusia
Tujuan
•
Menumbuhkan pemahaman bahwa diri
adalah manifestasi (tajalli) dari cinta Allah,
sehingga murid mampu mengenal Allah melalui pengenalan diri.
Hal ini akan mendorong
murid untuk bersyukur dan merawat potensi dirinya sebagai
karunia Ilahi.
•
Menumbuhkan sikap syukur pada diri
melalui penerapan self-compassion, yaitu mengembangkan welas asih terhadap diri
sendiri dengan memenuhi hak-hak dasar fisik, emosi, dan spiritual secara seimbang,
sehingga murid dapat menjadi individu yang utuh dan berdaya.
•
Menguasai keterampilan Social Emotional Skill (SES) untuk
menjadi pengendali emosi yang efektif, bukan sebaliknya, sehingga murid memiliki
kesejahteraan mental (mental health) yang baik dan seimbang, serta mampu menghadapi
tantangan hidup dengan positif.
•
Memahami hakikat kesatuan manusia
sebagai satu kesatuan yang setara dan saling terhubung, sehingga murid akan menyadari bahwa mencintai dan menghargai orang lain
adalah cerminan dari menghargai dan mencintai diri sendiri.
•
Memahami keragaman sebagai bagian dari sunnatullah dan fitrah
kehidupan, sehingga murid dapat menerima perbedaan sebagai kekayaan, bukan hambatan.
•
Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan
kemanusiaan, seperti tasamuh (toleransi),
tawasuth (moderat), syura (musyawarah), dan lainnya dalam interaksi
sosial, sehingga murid dapat membangun hubungan yang harmonis
dan penuh kedamaian di tengah masyarakat.
Materi
•
Membiasakan akhlak terpuji kepada
diri sendiri, seperti tawakal, ikhtiar, syukur, sabar, qanaah, kreatif,
produktif, dan inovatif.
•
Menghindari akhlak tercela kepada
diri sendiri, seperti ananiah, putus asa, ghadab, dan tamak.
•
Membiasakan diri menjaga kebersihan, kesehatan, dan keselamatan diri sebagai
bentuk syukur dan tanggung jawab terhadap tubuh yang Allah Swt. anugerahkan.
•
Ajaran Islam tentang ukhuwah Islamiyah
(persaudaraan dalam Islam) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). Adab kepada orangtua. Adab kepada saudara. Adab kepada tetangga. Adab kepada teman. Adab kepada sesama umat beragama maupun
antarumat agama.
•
Memahami akhlak terpuji kepada sesama:
ta’awun, tafahum, tasamuh, tawadhu,
dan husnuzhan.
•
Memahami akhlak tercela kepada sesama:
ananiah, rafast, gadhab, su’uzhan, ghibah, fitnah, dan namimah.
5.
Cinta Tanah Air
Tujuan
Menumbuhkan semangat cinta
tanah air sebagai bagian dari iman.
Materi
•
Ajaran Islam tentang ukhuwah wathaniyah
(persaudaraan kebangsaan).
•
Konsep cinta tanah air dalam Islam
(Hubbul Wathan minal Iman).
•
Menghormati perbedaan suku, budaya, dan agama dalam bingkai persatuan
(QS. Al-Hujurat: 13).
•
Menjaga kedaulatan dan keamanan negara dengan berkontribusi untuk kemajuan
bangsa.
Sumber : Keputusan Dirjenpendis No. 6077 Tahun 2025. Tentang : Panduan Kurikulum Berbasis
Cinta
